Makalah Hasan Karman berjudul ‘Sekilas Melayu: Asal-Usul dan Sejarahnya’ menjadi pembicaraan hangat masyarakat Kota Singkawang, karena terdapat kutipan dari buku Chinese Democracies A Study Of The Kongsis Of West Borneo karangan Yuan Bingling.
Salah satu paragrap yang dikutip pada intinya menyebutkan bahwa dalam sejarahnya Melayu melakukan perdagangan dan perompakan. Kata-kata inilah yang tidak bisa diterima oleh beberapa kalangan, khususnya dari warga Melayu.
Menyikapi hal itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kota Singkawang Libertus Ahie yang ditemui di kantornya menjelaskan, jika melihat tulisan dalam makalah tersebut, memang benar berdasarkan buku karangan Yuan Bingling. “Tentu banyak orang yang tidak paham, karena ini karya ilmiyah yang tak lepas dari sejarah yang harus kita terima,” katanya didampingi Sekretaris Badan Kesbangpolinmas Kota Singkawang, Elmin.
Libertus mencontohkan dirinya yang beretnis Dayak. Suku ini terdiri dari 336 sub suku Dayak, dimana dalam sejarahnya sebelum agama Islam dan Kristen berkembang, terdapat budaya yang disebut Mengayau. Sehingga juga memumculkan sebutan sebagai suku bangsa kanibal. “Itu sejarah masa lalu yang memang tidak bisa dipungkiri. Tapi pada tahun 1776, suku Dayak berkumpul dan disana ada yang sudah memiliki agama. Mereka sepakat tidak lagi memakan manusia,” jelasnya.
Bila dikaitkan dengan makalah yang ditulis Hasan Karman saat acara Bedah Buku Fiqih Melayu di Kota Singkawang tanggal 26 Agustus 2008 lalu, tentunya tidak sembarangan tulisan tersebut dibuat. Pasti tegas Libertus, ada catatan kaki. “Kalau menyusun suatu buku, ada hal-hal yang tidak boleh terlupakan,” tegasnya.
Dewan Penasihat DAD Kota Singkawang ini melanjutkan, sejarah masa lalu seperti ditulis dalam buku Chinese Democracies karya Yuan Bingling yang menjadi dasar Hasan Karman itu jelas. Di dalam buku ini tertulis apa yang disebut Hasan Karman dalam makalahnya. Buku ini pun hanya ada di Belanda, termasuk beberapa catatan tentang penambang emas, tani dan penambang distrik Cina. “Jelas pada waktu itu tidak ada masalah. Kami heran, kenapa akhir-akhir ini beberapa orang mencuatkan kembali dan tidak terima kalau suku Melayu dibilang perompak. Yang jelas itu sejarah masa lalu, sama dengan Dayak dulu dibilang makan orang, dan Melayu tidak lagi seperti itu sekarang,” tukasnya.
Menurut dia, hal ini harus diperjelas. Jangan sampai terjadi bikin rusuh hanya gara-gara tulisan Hasan Karman. “Kalau kita terus begini siapa yang mampu membangun Singkawang. Kota ini tak cukup dibangun hanya dengan APBD saja, tapi memerlukan pihak ketiga atau investor. Tidak mungkin seorang kepala daerah mampu membangun daerah dengan APBD, tapi bagaimana mau bangun kalau kita ribut hanya dengan tulisan kecil ini,” tukasnya. Contoh Makalah
Salah satu paragrap yang dikutip pada intinya menyebutkan bahwa dalam sejarahnya Melayu melakukan perdagangan dan perompakan. Kata-kata inilah yang tidak bisa diterima oleh beberapa kalangan, khususnya dari warga Melayu.
Menyikapi hal itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kota Singkawang Libertus Ahie yang ditemui di kantornya menjelaskan, jika melihat tulisan dalam makalah tersebut, memang benar berdasarkan buku karangan Yuan Bingling. “Tentu banyak orang yang tidak paham, karena ini karya ilmiyah yang tak lepas dari sejarah yang harus kita terima,” katanya didampingi Sekretaris Badan Kesbangpolinmas Kota Singkawang, Elmin.
Libertus mencontohkan dirinya yang beretnis Dayak. Suku ini terdiri dari 336 sub suku Dayak, dimana dalam sejarahnya sebelum agama Islam dan Kristen berkembang, terdapat budaya yang disebut Mengayau. Sehingga juga memumculkan sebutan sebagai suku bangsa kanibal. “Itu sejarah masa lalu yang memang tidak bisa dipungkiri. Tapi pada tahun 1776, suku Dayak berkumpul dan disana ada yang sudah memiliki agama. Mereka sepakat tidak lagi memakan manusia,” jelasnya.
Bila dikaitkan dengan makalah yang ditulis Hasan Karman saat acara Bedah Buku Fiqih Melayu di Kota Singkawang tanggal 26 Agustus 2008 lalu, tentunya tidak sembarangan tulisan tersebut dibuat. Pasti tegas Libertus, ada catatan kaki. “Kalau menyusun suatu buku, ada hal-hal yang tidak boleh terlupakan,” tegasnya.
Dewan Penasihat DAD Kota Singkawang ini melanjutkan, sejarah masa lalu seperti ditulis dalam buku Chinese Democracies karya Yuan Bingling yang menjadi dasar Hasan Karman itu jelas. Di dalam buku ini tertulis apa yang disebut Hasan Karman dalam makalahnya. Buku ini pun hanya ada di Belanda, termasuk beberapa catatan tentang penambang emas, tani dan penambang distrik Cina. “Jelas pada waktu itu tidak ada masalah. Kami heran, kenapa akhir-akhir ini beberapa orang mencuatkan kembali dan tidak terima kalau suku Melayu dibilang perompak. Yang jelas itu sejarah masa lalu, sama dengan Dayak dulu dibilang makan orang, dan Melayu tidak lagi seperti itu sekarang,” tukasnya.
Menurut dia, hal ini harus diperjelas. Jangan sampai terjadi bikin rusuh hanya gara-gara tulisan Hasan Karman. “Kalau kita terus begini siapa yang mampu membangun Singkawang. Kota ini tak cukup dibangun hanya dengan APBD saja, tapi memerlukan pihak ketiga atau investor. Tidak mungkin seorang kepala daerah mampu membangun daerah dengan APBD, tapi bagaimana mau bangun kalau kita ribut hanya dengan tulisan kecil ini,” tukasnya. Contoh Makalah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar